Gili Meno yang sepi… ‘Because solitude matters’


Akhir November 2013, bertepatan dengan ulang tahunku, aku memberikan hadiah untuk diriku sendiri dengan melakukan perjalanan dan menghabiskan beberapa hari di Gili Trawangan, satu dari tiga pulau GIli yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat.  Aku sangat bersyukur atas kesempatan itu, menikmati setiap waktu yang aku lewati disana dan berdoa agar jika aku masih hidup pada ulang tahunku berikutnya, November tahun 2014, aku ingin datang kembali ke pulau Gili yang lain.

Puji Tuhan atas kemurahan dan berkatNya, tahun ini harapanku terwujud.  Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana aku mengatur perjalananku dari Jakarta ke Gili Trawangan melalui penerbangan Jakarta-Lombok lalu Lombok-Gili Trawangan melalui perjalanan darat dan menyeberang dengan perahu, tahun ini aku mengatur penerbanganku dari Jakarta-Denpasar. Selain aku bisa mendapatkan harga tiket pesawat yang lebih murah, ada alternatif perjalanan lain yang bisa aku coba, aku juga berkesempatan mengunjungi ibu Agus, seorang ibu bersama keluarganya yang sudah seperti keluarga untukku, untuk anjingku Hazel dan kemudian untuk adikku (aku akan menceritakannya pada post yang lain).

Setelah mendapatkan kesempatan mengenal Gili Trawangan yang ceria dan penuh energi, kali ini aku ingin mengunjungi Gili Meno, pulau mungkil yang terletak diantara Gili Air dan Gili Trawangan.  Lonely planet menuliskan Gili Meno sebagai pulau yang paling tenang dan pemalu.  Sepertinya tepat sekali untukku yang membutuhkan retreat setelah bekerja keras selama ini. Gili Meno Aku menyeberang ke Gili Meno dari Pelabuhan Padang Bai, Bali.  Dari hasil risetku sebelumnya, rata-rata kapal cepat yang menyediakan penyeberangan Bali-Gili hanya berhenti di Gili Trawangan.  Sehingga jika kita ingin pergi ke pulau Gili yang lain, kita harus turun di Gili Trawangan dan mencari perahu yang lain yang dalam beberapa kali setiap hari ‘beredar’ diantara pulau-pulau Gili (harga berkisar Rp. 20.000 – Rp 30.000 per orang untuk penyeberangan pagi, siang dan sore). Beruntung, aku menemukan Indrajaya, satu kapal cepat yang dapat mengantarkan aku ke Gili Meno setelah menurunkan penumpang di Gili Trawangan.

Harga sekali jalan adalah Rp 350.000 (berbeda dengan harga tiket Padang Bai-Gili Trawangan yang adalah Rp 250.000.  Tolong dicatat bahwa harga ini adalah harga khusus yang kudapat setelah bernegosiasi dengan penjual tiketnya.  Harga bisa lebih tinggi untuk turis manca negara).  Aku memilih langsung ke GIli Meno karena memang tujuanku kali ini adalah menjauhi keramaian.   Dengan demikian, aku bisa lebih santai dan langsung tiba di Gili Meno tanpa harus menunggu jadwal perahu antar pulau Gili. Kapal Cepat Indrajaya ketika transit di  GIli Trawangan Aku menginap di Mallias Child, penginapan yang letaknya tepat di tepi pantai dan sangat dekat dengan ‘pelabuhan’ tempat aku turun dari kapal cepat.  Aku tidak perlu menggunakan Cidomo untuk mencapai tempat ini, karena jaraknya hanya beberapa meter dari ‘pelabuhan’.  Aku disambut dengan jus Semangka sebagai minuman selamat datang yang cukup berhasil memberikan rasa segar setelah perjalanan Padang Bai – Gili Meno selama kurang lebih satu jam. Ruangan yang kupilih adalah kamar dengan gaya rumah Lumbung, seperti yang dapat dilihat di bawah ini. kamar di Mallias Child Kamar ini aku pesan melalui Agoda.  Kemudian aku tahu bahwa di masa low season, kamu bisa dapat harga kamar yang murah, bahkan lebih murah dari harga di Agoda jika kamu datang langsung memilih-milih hotel/penginapan yang kamu inginkan. Aku cukup senang dengan penginapan ini, mereka punya staff yang ramah.  Salah satu yang kuingat bernama Wayan, gadis remaja berdarah Bali yang justru belum pernah mengunjugi Bali.  Ada fasilitas wifi yang sayang kecepatannya tidak stabil (sangat cepat saat di hari pertama, namun up and down di hari-hari berikutnya).  Jika kamu termasuk orang yang tidak tahan panas, sebaiknya pesan kamar yang ber AC.  Kamar-kamar lumbung ini rata-rata hanya menggunakan fan.

Karena hanya menggunakan kamar untuk mandi dan tidur, maka aku sudah merasa cukup dengan menggunakan kipas angin. Karena Mallias Child terletak di tepi pantai, aku merasa sangat nyaman dan aman berenang selepas senja sampai jauh malam.  Selepas senja, warna langit dan pantai sulit kudeskripsikan dengan kata-kata.  Pantai berdegradasi warna mulai tuiqoise sampai biru, demikian juga langit yang bersih berwarna kebiruan lembut dengan coretan-coretan warna jingga.  Suhu air lautnya juga hangat, membuatku betah berenang ataupun mengapung menatap langit berlama-lama, sampai langit berubah warna menjadi gelap dan aku mulai melihat bintang bermunculan satu-persatu.

Pantai Turqoise yang hangatPulau ini sangat sepi.  Itu daya tarik utama Gili Meno untukku.  Selama aku berenang atau menghabiskan waktu membaca di tepi pantai, hanya ada beberapa turis yang berjalan kaki melewati jalan setapak di belakangku.  Suara langkah kaki kuda dan roda kereta Cidomo juga hanya terdengar sesekali.  Aku merasa lebih terhubung dengan alam, sehingga bisa fokus pada kekinian, mengagumi ciptaan Tuhan dengan tanpa henti mengucap syukur. pantai Gili yang sepiSebelum berenang yang kuceritakan tadi, hiking adalah aktivitas pertamaku di Gili Meno.  Karena membaca bahwa lingkar luar pulau ini bisa ditempuh berjalan kaki, tak lama setelah checked in di Mallias Child aku mulai berjalan menyusuri jalan setapak mengelilingi pulau.  Banyak yang bisa kulihat selama perjalanan itu, seperti tempat konservasi penyu, beberapa abandoned hotels yang agak spooky, tepi pantai terbuka, jalan setapak diantara pepohonan, danau kecil, dan berbagai penginapan dengan gaya dan arsitektur yang berbeda. jalan setapak sepanjang tepi pulau GIli MenoBerbeda dengan Gili Trawangan dimana kita bisa menyewa sepeda, di Gili Meno umumnya sepeda tidak disewakan.  Alat transportasi satu-satunya adalah Cidomo.  Tidak ada penyewaan sepeda dan hanya penduduk lokal yang menggunakan sepeda beserta beberapa pendatang dan orang asing yang mungkin tinggal di pulau ini untuk jangka panjang.  Ketika di Gili Trawangan aku selalu bereksporasi pulau dengan sepeda, di Gili Meno aku tidak keberatan untuk berjalan kaki. Salah satu pemandangan unik yang kutemukan saat hiking adalah pohon yang dihiasi sandal-sandal, seseorang dengan telaten menggantung sandal-sandal terdampar di pantai pada pohon ini :) sandal-sandal Saat letih karena berjalan kaki, aku berhenti di sebuah cafe tepi pantai yang dikelola oleh penginapan Diana.  Letaknya tak jauh dari danau.  Lime juice dan ikan bakar menjadi menu pilihanku siang menjelang sore itu sambil mendengarkan deburan ombak dan menikmati pemandangan pantai nan tenang dengan pasir putih yang menghampar luas di depan mata.  Di salah satu sisi, ada dua pohon kering yang dihias dengan untaian karang yang digantung dengan benang yang menurutku unik ketika difoto. Diana's CafeSetelah kembali melanjutkan perjalananku, aku sempat merasa bahwa aku telah bersikap terlalu ambisius, karena aku tidak kunjung menyelesaikan perjalananku mengelilingi pulau, hehehe.  Namun akhirnya aku tiba di tempat aku start.  Rasanya senang, lega, dan cukup bangga :)  Segera setelah menyimpan tas di kamar Mallias Child, aku berendam di pantai yang dengan cepat membuat otot-ototku kembali relaks. hammock Sisi pulau Gili Meno dimana kita bisa melihat pulau Gili Air, tempat ‘pelabuhan’ dan hotel Mallias Child berada, adalah sisi yang menghadap ke timur.  Sehingga kita bisa menikmati matahari terbit dari pantainya.  Selama berada di Gili Meno, setiap hari aku sarapan di gubuk-gubuk di depan hotel yang berada tepat di tepi pantai.  Menu sarapannya adalah toast (disajikan bersama butter dan selai Strawberry, telur (bisa telur dadar, mata sapi atau scramble egg), bersama pilihan kopi atau teh.  Mereka juga menyediakan tambahan susu untuk teman minum kopi/teh.

Di siang hari, kegiatan yang kulakukan adalah tidak melakukan apa-apa :)  Ini yang disebut Elizabeth Gilbert dalam bukunya Eat, Pray, Love dengan ‘dolce far niente’, sebuah ungkapan bahasa Italia untuk menggambarkan ‘the sweetness of doing nothing’.  Ketika mulai mengantuk, aku akan napping sambil tiduran di pasir di bawah pohon.  Kamu tahu kan, ada banyak studi yang menunjukkan manfaat yang bagus dari siesta (tidur siang) ? :) Quiet Huts Di gubuk-gubuk tepi pantai ini aku mengamati laut dan pulau Gii Air di hadapanku.  Beberapa kapal kecil dan yatch ‘terparkir’.  Kadang-kadang ada speed boat dan perahu-perahu yang melintas, umumnya membawa penumpang yang bepergian antar pulau atau mengantar penumpang yang melakukan aktivitas snorkling.  Hanya ada suara ombak dan suara-suara burung laut yang terdengar. Minuman favoritku untuk kuminum di gubuk ini adalah es teh dengan lime atau air kelapa muda.  Bir hanya kuminum pada malam hari, sambil duduk-duduk di tempat yang sama.

Di suatu malam, aku beranjak dari gubuk beratapkan ilalang itu dan merebahkan diri di tepi pantai.  Aku baru sadar betapa beruntungnya aku.  Karena tidak banyak lampu yang menyala di Gili Meno, dan udara masih bersih, aku bisa melihat gugusan bintang Bima Sakti (the Milky Way) dengan jelas.  Sebuah hal yang tidak mungkin kulihat saat aku berada di Jakarta.  Aku langsung teringat ayahku, orang pertama yang mengajarkan aku tentang perbintangan dan tata surya ketika aku masih kecil.  Saat itu juga, aku menitipkan salam untuk ayah, ibu dan adikku melalui alam semesta. Melampaui Mimpi Selama hari-hariku di Gili Meno, aku juga banyak menghabiskan waktu duduk di pasir pantai, di bawah pohon-pohon yang cukup rindang melindungiku dari terik sinar matahari.  Dari Jakarta aku membawa buku ‘Melampaui Mimpi’ yang menceritakan perjalanan hidup Ginan Koesmayadi, yang sudah kubeli beberapa waktu yang lalu namun belum sempat kubaca karena kesibukanku.

Ada perasaan senang yang sulit kujelaskan setiap aku membaca buku.  Dengan buku yang spesial dan tempat yang sangat tenang ini, aku benar-benar menikmati kegiatan membaca ini. Ada beberapa nilai Ginan yang ternyata sama dengan nilai-nilaiku.  Aku juga merasa lebih mengenal Ginan melalui buku ini, dan merasa familiar ketika membaca nama-nama yang kukenal yang menjadi bagian dari cerita buku ini (Ayu, Febby, Patri dll).

Aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh siapa saja.  Kita bisa belajar tentang banyak hal: tentang jiwa yang merdeka, impian dan kekuatan pikiran, tentang semangat dan tantangan hidup, indahnya persahabatan, tantangan-tantangan yang dihadapi teman dan saudara kita yang hidup dengan HIV serta orang-orang yang menggunakan drugs, relasi, serta pentingnya keluarga sebagai faktor resilience seseorang. Mungkin aku akan menuliskan tentang bagaimana ibuku dan aku terhubung dengan Ginan dalam post-ku yang lain.

Menjelang senja, biasanya aku kembali menikmati suasana tenang yang hangat dengan berjalan-jalan di tepi pantai.  Foto berikut adalah salah satu foto yang  secara beruntung bisa kudapatkan: pasangan yang sedang berenang dari balik pohon yang tumbuh di tepi pantai.  Romantis ya? Lovers Khusus di sore hari kedua, aku naik Cidomo untuk mengunjungi Adeng-adeng, sebuah cafe tepi pantai yang menarik yang kutemukan saat aku hiking hari pertama aku tiba di Gili Meno.  Meskipun pulau ini sepi, untuk menghindari kekecewaan kehabisan tempat, di hari sebelumnya aku telah melakukan reservasi untuk satu meja pada Aji, staff Cafe ini yang sangat ramah.  “Satu meja ya Ji?  Untuk besok sore… Jangan sampai diberikan kepada orang lain.  Saya akan datang sebelum matahari terbenam.” Aji kemudian menjelaskan bahwa meja yang kupesan tidak akan diberikan kepada siapapun sejak Cafe dibuka di sore hari. Adeng-adeng Ketika aku tiba dengan Cidomo di Adeng-adeng sore itu, Aji langsung menyambutku dan mempersilahkan aku menempati tempat yang telah kupesan.  Hari ini adalah ulang tahunku, jadi aku akan memanjakan diriku dan menikmati birthday dinner di tempat ini. Restoran (dan penginapan) Adeng-adeng berada di bagian pulau yang berlawanan dengan sisi Mallias Child.  Adeng-adeng menghadap ke pulau Gili Trawangan, tempat aku bisa menikmati pemandangan sunset.  Sambil menunggu makanan pesananku, aku mengambil beberapa foto dan kemudian menikmati suasana alam sore itu dengan warna-warninya yang magis.  Mirip dengan warna langit ketika aku dan sahabatku mbak Fira berperahu melintasi danau Sentani-Papua sesaat setelah matahari terbenam.

Aku tidak mempunyai ekspektasi terlalu tinggi untuk makanan di pulau ini.  Bagaimanapun, ini adalah pulau kan?.  Kecuali ikan dan udang, semua bahan makanan harus didatangkan dari Lombok.  Jadi aku sangat terkejut ketika satu demi satu makanan datang.  Sttt, satu demi satu… banyak dong?  Hahaha iyaaa!  Ini adalah hari ulang tahunku, aku bisa makan apapun yang aku suka :) Diawali dengan Vietnamese Fresh Vegetable Spring Roll sebagai appetizer.  Presentasinya memang tidak secantik makanan yang sama yang biasa aku pesan di restoran favoritku Three Monkeys di Ubud.  Namun, secara mengejutkan, rasanya tidak jauh berbeda :)  Selanjutnya,  datanglah Aji membawa salad yang segar dengan Italian dressing (terimakasih Tuhan, bukan mayonaise atau saos thousand island seperti yang kubayangkan sebelumnya hihihi).

Setiap kali aku tersenyum menikmati keindahan tempat ini dan lezatnya makanan yang kusantap, aku selalu diingatkan untuk makan dengan kesadaran penuh.  Mindfull eating. Mengapa?  Karena Adeng-adeng berarti ‘pelan-pelan’.  Setelah seafood kebab yang kupesan diantarkan fresh dari tempat barbecue di belakang restoran, aku meneruskan makan sambil fokus pada ‘saat ini dan disini’.  Jagungnya terasa manis dan segar, demikian pula dengan udang, kentang dan paprikanya.  Yummy.

Kamu tahu, makan malam ulang tahun tidak lengkap tanpa dessert.  Desserts benar-benar kebalikan dari Stressed.  Semua terasa indah saat taste buds di lidahku mengirimkan impuls ke otakku segera setelah suap pertama Drunken Chocolate Mousse Cognac masuk ke mulutku.  Life’s good. Aku benar-benar salah.  Ternyata, aku bisa mendapatkan makanan dengan kualitas jauh diatas standar di pulau ini !

Demikianlah sepenggal ceritaku.  Dua hari setelah ulang tahunku aku meninggalkan the mellow Gili Meno dan kembali naik kapal cepat menuju Padang Bai, Bali.  Aku membiarkan rombongan turis naik terlebih dahulu dengan membawa koper-koper mereka (ya, jangan ragu untuk membawa kopermu karena di kapal tersedia bagasi untuk koper-koper penumpang).   Kembali aku mengucapkan syukur pada Tuhan atas beberapa hari yang aku lewati di pulau ini.  Untuk umur yang ditambahkan satu tahun sejak petualanganku di pulau Gili Trawangan tahun sebelumnya.  Energiku seperti di recharge.  Memang benar kata banyak ahli (yang didukung data dari berbagai studi) bahwa mengambil waktu untuk diri sendiri itu penting.  Ketika hendak menaiki kapal Indrajaya, aku teringat lagi sebuah kata bahasa Italia yang juga kukenal dari buku Eat Pray Love Elizabeth Gilbert.  Attraversiamo.  Let’s cross over! 'Pelabuhan Gili Meno', siap menyeberang ke Padang Bai-BaliDari balik jendela kapal yang mulai melaju, aku sempat memotret sebuah yatch yang terapung di dekat pantai Gili Meno yang sedang aku tinggalkan.  Gambaran yang kulihat ini sangat mengingatkanku pada tiga kata yang pertama kali diperkenalkan adikku kepadaku dari graffiti yang dibuat seseorang di dinding villa di pantai Sanur-Bali, dekat bungalow sewaan tempat kami tinggal dulu.  Tiga kata, yang setelah aku Google, konon dipercaya sebagai kata-kata yang keluar dari mulut Mark Twain.  Explore.  Dream.  Discover. Yatch yang parkir dekat Gili Meno

Twenty years from now you will be more disappointed by the things you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore.  Dream.  Discover.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>