Sekali Lagi, HIV dan Tusuk Gigi


toothpickIsu tentang pembalasan dendam orang-orang yang terinfeksi HIV (selanjutnya aku akan menyebut ‘Orang yang hidup dengan HIV’) melalui tusuk gigi adalah sebuah isu lama. Seingatku, isu ini sempat merebak sekitar sepuluh tahun yang lalu di masa-masa awal program penanggulangan HIV di Indonesia mulai giat dilaksanakan.

Saat ini, di era telepon pintar alias smartphones dimana orang-orang dengan mudah berbagi informasi dan berbagi hoax, isu ini kembali bangkit dari kuburnya. Seorang teman meneruskan pesan ini dalam grup ‘Fakultas Kedokteran’ di telepon (yang kadang-kadang tidak begitu) pintar milikku.

Jika kamu memikirkan apa yang aku pikirkan, bagaimana hoax ini bisa diteruskan dan dibagikan oleh seorang dokter, maka kamu sudah mengetahui satu alasan yang sangat membuatku risau saat itu. Syukurlah, beberapa teman lain kemudian segera merespon dan mengklarifikasi, disertai pesan bahwa saat ini pertarungan kita adalah bagaimana melawan penyebaran virus, bukan melawan orang yang hidup dengan HIV.

Contoh ini adalah gambaran terbatasnya, atau mungkin lebih tepat disebut sebagai belum meratanya pengetahuan dasar tentang HIV pada masyarakat kita, termasuk tenaga kesehatan. Pertanyaan serupa sering dilontarkan ketika aku menfasilitasi atau terlibat dalam kegiatan-kegiatan peningkatan kesadaran atau pengembangan kapasitas terkait HIV pada berbagai kelompok masyarakat dan profesi. Yang terakhir adalah beberapa hari yang lalu ketika aku mendapatkan kesempatan untuk berbicara di sebuah seminar mengenai ‘Voluntary Counseling and Testing versus Provider Initiated Counseling and Testing’. Seorang peserta seminar mengajukan pertanyaan tentang penularan HIV melalui tusuk gigi ini, sambil menambahkan bahwa pesan-pesan yang beredar tentang ‘pembalasan dendam’ orang yang hidup dengan HIV ini sangat meresahkan banyak orang.

Itulah latar belakang aku mengapa membuat tulisan ini. Karena setelah sekian lama dan untuk kesekian kalinya, masih ada kekhawatiran yang tidak berdasar yang perlu diklarifikasi. Saat ini, aku akan mencoba menjelaskan bagaimana HIV dapat ditularkan dari satu orang ke orang lainnya. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa tidak seperti yang dipercaya banyak orang, pada dasarnya HIV tidak mudah menular.

HIV hanya dapat menular ketika prinsip-prinsip penularannya terpenuhi. Prinsip-prinsip penularan tersebut adalah Exit, Sufficient, Survive, Entry atau yang biasa disingkat menjadi ‘ESSE’. Exit berarti harus ada jalan keluar virus dari orang yang terinfeksi. Sufficient berarti jumlah virus harus cukup banyak agar infeksi dapat terjadi, Survive artinya virus harus mampu bertahan hidup ketika untuk sementara ia berada di luar tubuh manusia, dan Entry berarti harus ada jalan masuk bagi virus ke tubuh orang lain yang belum terinfeksi.

Sekarang, mari kita menganalisa penggunaan tusuk gigi bekas yang katanya digunakan sebagai alat ‘balas dendam’ itu tadi. Katakanlah ada orang-orang yang hidup dengan HIV yang menggunakan tusuk gigi, sengaja melukai gusinya sehingga berdarah. Disini, prinsip Exit telah terpenuhi. Pada saat ini prinsip Sufficient juga mungkin terpenuhi JIKA ada darah yang terlihat cukup banyak di ujung tusuk gigi. Kemudian orang ini meletakkan tusuk gigi (atau lebih tepat tusuk-tusuk gigi. Dalam bentuk jamak, karena ini misi balas dendam bukan? Maka agar kemungkinan pembalasan dendam berhasil dan efektif, dibutuhkan banyak tusuk gigi yang ditusukkan ke gusi orang-orang yang hidup dengan HIV tadi. Ingat, harus ada darah yang terlihat di ujung tusuk gigi sehingga prinsip Sufficient bisa terpenuhi… ouch).

Kemudian, tusuk-tusuk gigi yang ujungnya berdarah itu dikumpulkan kembali dan entah bagaimana caranya di sebarkan di berbagai tempat. Logikanya, dibutuhkan waktu sejak tusuk-tusuk gigi ini ditusukkan ke gusi orang yang hidup dengan HIV sampai tusuk-tusuk gigi ini disebarkan dan siap digunakan oleh banyak orang. Disini, prinsip Survive tidak terpenuhi karena darah di ujung tusuk gigi akan mengering, dan virus yang hidup didalamnya tidak lagi mampu bertahan hidup.

Dan jika ada orang-orang yang menggunakan tusuk gigi tersebut, yang semuanya tidak melihat tusuk gigi yang ujungnya ada darah kering, atau melihatnya tapi tetap nekat memakainya dan membuat gusinya tertusuk tusuk gigi itu, prinsip terakhir entry tetap tidak terpenuhi karena tidak ada lagi virus yang akan masuk.

Bagaimana jika orang yang hidup dengan HIV hanya menggunakan tusuk gigi untuk membuat tusuk gigi ini tercemar dengan air liurnya sehingga tusuk gigi itu lebih tidak mencurigakan ketika akan digunakan oleh orang lain? Dalam contoh ini, semua prinsip tidak terpenuhi dan tidak relevan, karena air liur tidak mengandung virus. Kalaupun ada, jumlahnya sangat tidak signifikan.

Adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan tidak beralasan tentang penularan HIV melalui tusuk gigi. Sayang sekali, pesan-pesan yang salah seperti ini begitu banyak beredar di masyarakat. Sementara, dari sekian banyak orang yang hidup dengan HIV yang kukenal, tidak ada satupun yang ingin membalas dendam dan membagikan virus kepada orang lain. Banyak diantara mereka justru menjadi sangat berhati-hati agar virus tidak menular kepada pasangan, anak, atau orang lain. Banyak pula yang bekerja keras dalam respon terhadap HIV, agar HIV cukup berhenti pada dirinya dan semakin sedikit orang yang terinfeksi HIV karena ketidaktahuan atau ketidakberdayaan mereka.

 

Originally posted on Asti’s blog, January 31, 2012.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>